Program pengkajian jurnal-jurnal
internasional merupakan upaya mencari contoh model-model pengkajian hadis Nabi.
Selain itu, pengkajian tersebut juga bertujuan memperkaya wawasan tentang
kajian hadis kontemporer. Khususnya untuk kepentingan komunitas. Pencarian
model dan pengkayaan wawasan ini telah sedikit banyak menghubungkan kajian
dengan jejaring pengetahuan non-agama seperti ilmu-ilmu sosial yang meliputi sejarah,
sosiologi, kritik budaya, dan
fenomenologi.
Rabu, 29 Oktober 2014
Senin, 06 Oktober 2014
Kritik atas Metode Kritik Hadis Nasiruddin al-Albani
Diskusi
eBI kali ini mengangkat penelitian Kamaruddin Amin berjudul Nasir al-Din
al-Albani on Muslim Sahih, Critical Study of His Method. Orang Makassar
jebolan universitas terkemuka di Jerman ini mencoba melihat metode kritik hadis
yang digunakan oleh tokoh hadis kelahiran Albania tersebut.
Menurutnya,
al-Albani merupakan sosok yang unik. Dengan metode yang sama dengan yang
digunakan ahli hadis pada umumnya, dia membuat kesimpulan-kesimpulan yang berbeda
dengan kesimpulan ahli hadis kenamaan, Muslim bin Hajjaj al-Naisaburi, penulis
kitab Sahih Muslim (SM). Tidak kurang dari 360 buah hadis dalam SM disinyalir
daif alias tidak otentik. Hal ini tentu saja membantah tesis yang selama ini
diimani oleh jumhur ulama yang menyatakan bahwa otentisitas hadis-hadis yang
termuat dalam Sahihain (Bukhari-Muslim) berada sedikit di bawah Alquran. Artinya,
tidak perlu diragukan karena telah melalu proses seleksi yang ketat. Pandangan
ini telah menjadi keyakinan umum di kalangan umat Islam, kalau tidak disebut
ijmak. Tak ayal, temuan al-Albani ini mengegerkan dunia Islam. Pro-kontra pun
bermunculan. Sebagian orang mengeritik al-Albani, dan sebagian yang lain
memberikan dukungan penuh.
Minggu, 28 September 2014
Hadis dan Kritik Sosial (Islam Jawa)
Diskusi kali ini mengangkat artikel Mark R. Woodward tentang
terjemahan sebuah kitab hadis yang populer di Indonesia, Riyadh al-Shalihin
(RS). Kajian Mark Woodward itu dituangkan dalam artikel berjudul Textual Exegesis as
Social Commentary: Religious, Social, and Political Meanings of Indonesian
Translations of Arabic Hadith Texts. Mark yang seorang Indonesianis dalam Islam Jawa itu
mengamati bahwa terjemahan tersebut bukan sekadar terjemahan yang terlepas dari
konteks sosial politiknya. Bahkan dalam temuannya, Mark menyatakan terjemahan
itu ideologis. Ia berfungsi melakukan kritik sosial-kebudayaan-politik, selain
meneguhkan identitas suatu kelompok sosial tertentu.
Keluarga Nabi, Bahtera Keselamatan (Anjuran Mencintai Ahli Bait dalam Hadis Nabi.)
M. Khoirul Huda
Peran
keluarga Nabi saw. dalam melestarikan dan menyebarkan ajaran Islam sangat
besar. Utamanya pada masa ketika umat Islam sedang dalam keadaan kritis. Tiga
pengalaman di masa lalu menunjukkan kontribusi mereka dalam pelestarian agama
ini. Pertama, pasca kudeta Mu’awiah, muncul tiga faksi besar di kalangan
umat Islam: faksi Umawi, faksi Ali, dan faksi Khawarij. Perebutan kekuasaan
yang melelahkan mereda ketika al-Hasan bin Ali menyerahkan klaim
kekhalifahannya kepada Mu’awiah.
Jumat, 26 September 2014
Book Review “Teologi dalam Periwayatan Hadis” Aceng Abdul Kodir, Pustaka Aura Semesta, 2013, ISBN 978-602-17623-5-6
Menjadi opini umum,
bahwa para ahli hadis cenderung menolak riwayat orang-orang yang disinyalir mengikuti
aliran pemikiran tertentu atau yang sering disebut ahl al-ahwa’ wa al-bida’
(baca: mutakallim). Buku ini berusaha menampilkan ‘bentuk’ rekonsiliasi antara
ahli hadis dan para pengikut aliran pemikiran.
Menyoal Tarikh al-Kabir: Tradisi Kritik Hadis Generasi Pertama
Diskusi
el-Bukhari Insitute kali ini mengangkat artikel Christopher Melchert yang
berjudul Bukhari and Early Hadith Critisism. Sebuah artikel yang
diterbitkan oleh jurnal internasional JSTOR. Pemateri adalah saudari Rizqa
Fathurrahmah dan dimoderatori oleh saudara Abdul Karim Munthe yang juga
Direktur el-Bukhari Institute.
Minggu, 24 Agustus 2014
Membincang Wacana “Mukjizat Ilmiah Hadis”
"Artikel ini akan mengulas diskursus...logika sains dalam praktik penafsiran hadis..."
A. Prawacana
Abad modern ditandai dengan dominasi nalar sains dalam
kehidupan manusia.Hal ini berdampak buruk sekaligus positif bagi perkembangan
cara pandang keagamaan. Dalam dunia tafsir kitab suci misalnya, lahir sejumlah
buku tafsir yang berusaha menampilkan aspek-aspek saintis dalam ayat-ayat
Tuhan. Dalam tradisi hukum, lahir teori hikmah (theory of wisdom) atau populer dengan istilah teori maqashid syariah, salah satu bentuk
rasionalisasi atas doktrin hukum dengan menjawab pertanyaan “mengapa demikian”.
Sufisme Islam pun mendapatkan pembenaran dari psikologi. Bahwa sufisme
merupakan terapi psikologi menurut Islam. Tidak ketinggalan pula dunia politik
yang mulai mempopulerkan wacana “negara Islam”. Suatu istilah yang sepertinya
tidak dikenal selama berabad-abad era kejayaan Muslim. Para aktivis, sarjana
dan cendekiawan Muslim “dipaksa” merumuskan apa itu “negara Islam”.
Langganan:
Postingan (Atom)
Mikraj dalam Pandangan Sahabat
Setelah klaim kenabian, peristiwa kontroversial yang pernah dialami Nabi Muhammad saw. adalah isra dan mikraj. Isra-mikraj bukan saja me...
-
M. Khoirul Huda A. Pendahuluan Munculnya kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS) melahirkan perdebatan di kalangan akade...
-
M. Khoirul Huda A. Pendahuluan Diskusi tentang “klasifikasi ilmu pengetahuan” dalam Islam tidak dapat dilepaskan ...
-
M. Khoirul Huda Abstrak Kajian hadis-hadis bertentangan telah dimulai sejak sebelum masa al-Syafi’i. Namun, baru di tangan al-S...





