Rabu, 29 November 2017

Kesahihan Hadis Jihad Akbar Melawan Nafsu




M. Khoirul Huda

Ada sebagian kecil umat Islam yang menggebu-gebu semangat jihadnya. Menurut mereka, segala permasalahan di negeri ini, dan negeri-negeri Islam lainnya, hanya dapat selesai dengan jihad. Jihad yang mereka maksud adalah berperang secara fisik. Bunuh-bunuhan. Qital. Itu kata mereka. Dalam setiap forum pengajian, seminar, diskusi, dan omongan-omongan di antara sesamanya, jihad selalu disebut berulang-ulang. Seperti tidak ada kata lain yang lebih indah selain jihad. Para juru bicara mereka, setiap berbicara dalam forum-forum pengajian, tidak lupa memompakan semangat berjihad. Tidak boleh ada disenting opinion. Opini lain yang berbeda. Semisal opini yang menyatakan keragaman makna jihad. Selain perang juga bisa bermakna kerja keras, dan lainnya. Atau ketika ada yang menyampaikan bahwa jihad paling utama adalah jihad melawan nafsu. Bukan jihad dalam arti berperang dan bunuh-bunuhan. Statemen terakhir ini sepertinya berpotensi meruntuhkan materi propaganda mereka. 

Selasa, 28 November 2017

Hadis Hubbul Wathan Minal Iman Itu Sahih…



M. Khoirul Huda

Kalimat hubbul wathan minal iman akhir-akhir ini kembali popular. Kalimat itu berarti cinta tanah air bagian dari iman. Bersamaan dengan naik daunnya kalimat tersebut, ada sebagian pihak yang menerima pernyataan tersebut bulat-bulat dan menyebutnya sebagai hadis Nabi Muhammad saw. Sebagian kelompok umat Islam lainnya tidak menerima pernyataan tersebut. Mereka secara ekstrim menyebut itu sebagai hadis maudhu’ alias palsu. Karena kepalsuannya, ia tidak dapat dijadikan dalil. Lebih jauh, mereka mengatakan, tidak ada dalil bagi nasionalisme. Kelompok ketiga, agaknya ingin mencari jalan tengah dengan mengatakan, kalimat itu bukan hadis, hanya perkataan ulama. 

Lalu bagaimana kajian para ulama terhadap pernyataan tersebut? Benarkah ia hadis Nabi Muhamad saw? Bagaimana kualitasnya? Apakah sahih? Bagaimana dengan makna atau pengertiannya? Salah kah? Yuk, simak. Tulisan ini akan disusun secara kronologis. 

Selasa, 27 Desember 2016

Ahli Hadis dan Kutub Al-Zuhd; Framming Hadis Menuju Pembentukan Tradisi Tasawuf Teksto-Psiko-Religio-Moralistik



M. Khoirul Huda
(Pemerhati Kajian Hadis)

Ahli Hadis memberikan perhatian yang cukup besar kepada aspek kerohanian umat Islam. Hal ini dibuktikan dengan melimpahnya karya-karya yang mengulas tentang pentingnya kehidupan non-duniawi. Zuhud. Asketisme. Dalam kajian literatur hadis (dirasah al-kutub al-hadithiyyah), dapat dengan mudah ditemukan karya-karya yang berbicara tentang tema ini. Biasa dikenal dengan kutub al-zuhd. Terkadang ditambah dengan wa al-raqa’iq

Di antara pengarang kitab-hadis dengan topik khusus zuhud adalah al-Imam Abdullah bin Mubarak (w. 181 H.), Waki’ bin al-Jarrah (w. 197 H.), Hannad bin al-Sari (w. 243 H.), al-Asad bin Musa al-Muhasibi (w. 212 H.), Ahmad bin Hanbal (w. 241 H.), Abu Dawud al-Sijistani (w. 275 H.), Abu Hatim al-Razi (w. 277 H.), Ibnu Abi ‘Ashim (w. 282 H.), al-Baihaqi (w. 458 H.) dan al-Khathib al-Baghdadi (w. 463 H.).

Kamis, 18 Agustus 2016

Klasifikasi Ilmu Menurut Osman Bakar*



M. Khoirul Huda



     A.     Pendahuluan
Diskusi tentang “klasifikasi ilmu pengetahuan” dalam Islam tidak dapat dilepaskan dari megaproyek “islamisasi pengetahuan”. Ide ini muncul pada pertengahan abad kedua puluh, pascakolonialisme, di tangan sejumlah pemikir-filosof Muslim Asia-Amerika seperti Ismail Raji al-Faruqi (1921-1986), Taha Jabir Alwani (1935-2016), Sayyed Hosein Nasr (1933-sekarang), Sayyed Muhammad Naquib Al Attas (1931-sekarang), dan Osman Bakar (1946-sekarang).[1] Para pemikir tersebut berupaya mengembangkan gagasan islamisasi pengetahuan melalui pendirian lembaga riset dan pendidikan. Ismail Faruqi dan Taha Jabir mendirikan International Institute of Islamic Thought (IIIT), pada 1980. Sedangkan Sayyed Naquib Al Attas mendirikan International Institute of Islamic Thought and Civilisation (ISTAC), pada 1987. Sebelumnya, pada 1977, Osman Bakar mendirikan Islamic Academy of Science (IAS).

Senin, 23 Mei 2016

Istihsan; Sejarah, Konsepsi, Argumentasi dan Aplikasi*





M. Khoirul Huda
chairool_hoeda@yahoo.co.id



“Allah menghendaki kemudahan untuk kalian, dan tidak menghendaki kesulitan.”
QS. al-Baqarah [2]: 185

“Apa yang  menurut seorang Muslim baik, maka ia baik pula menurut Allah”
Ibn Mas’ud

Sabtu, 20 Februari 2016

Ahli Hadis dan Pengalaman Spiritualnya



M. Khoirul Huda

Ahli hadis merupakan kelompok sosial yang pernah eksis ratusan tahun lalu. Mereka berkarir di bidang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan hadis-hadis Nabi Muhammad saw. Mereka mencarinya, menghafalnya, mencatat, meneliti, menyeleksi, dan terkadang memberi penjelasan serta penafsiran-penafsiran tertentu. Kelompok ini juga pernah mengalami konfrontasi dengan kelompok kesarjanaan lain saat itu. Jasa mereka dapat dilihat dari melimpahkanya literatur yang berisi koleksi hadis-hadis Nabi saw. Puncak kejayaan ahli hadis adalah sekitar abad ketiga hijriah dengan lahirnya tokoh-tokoh besar dalam bidang studi hadis seperti al-Bukhari (194-256 H.) dan Muslim (204-261 H.). Keduanya merupakan simbol kejayaan studi hadis di dunia Islam.

Senin, 08 Februari 2016

Hadis dan Tasawuf dalam Perspektif Integrasi Dialogis-Interkoneksi



M. Khoirul Huda


Prawacana; Konfrontasi Menuju Dialog
Dalam kehidupan praktis, hadis merupakan rujukan penting bagi umat Islam. Ada sejumlah alasan mengapa hadis, dalam kenyataannya, lebih berpengaruh dalam kehidupan praktis mereka, bahkan mungkin terkadang dibanding Alquran sendiri yang dalam memberikan perintah dan larangan, sering menggunakan bahasa-bahasa yang berciri general. Hadis ini memberikan tuntunan praktis untuk menjelaskan kandungan Alquran. Dominasi hadis dalam kehidupan keagamaan praktis umat Islam di antaranya disampaikan seorang sarjana beraliran kritis, George Tharabisi. Dia mengatakan bahwa pola keberagamaan umat Islam lebih didominasi oleh hadis dibanding Alquran.[1]

Mikraj dalam Pandangan Sahabat

  Setelah klaim kenabian, peristiwa kontroversial yang pernah dialami Nabi Muhammad saw. adalah isra dan mikraj. Isra-mikraj bukan saja me...