Sabtu, 20 Februari 2016

Ahli Hadis dan Pengalaman Spiritualnya



M. Khoirul Huda

Ahli hadis merupakan kelompok sosial yang pernah eksis ratusan tahun lalu. Mereka berkarir di bidang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan hadis-hadis Nabi Muhammad saw. Mereka mencarinya, menghafalnya, mencatat, meneliti, menyeleksi, dan terkadang memberi penjelasan serta penafsiran-penafsiran tertentu. Kelompok ini juga pernah mengalami konfrontasi dengan kelompok kesarjanaan lain saat itu. Jasa mereka dapat dilihat dari melimpahkanya literatur yang berisi koleksi hadis-hadis Nabi saw. Puncak kejayaan ahli hadis adalah sekitar abad ketiga hijriah dengan lahirnya tokoh-tokoh besar dalam bidang studi hadis seperti al-Bukhari (194-256 H.) dan Muslim (204-261 H.). Keduanya merupakan simbol kejayaan studi hadis di dunia Islam.

Senin, 08 Februari 2016

Hadis dan Tasawuf dalam Perspektif Integrasi Dialogis-Interkoneksi



M. Khoirul Huda


Prawacana; Konfrontasi Menuju Dialog
Dalam kehidupan praktis, hadis merupakan rujukan penting bagi umat Islam. Ada sejumlah alasan mengapa hadis, dalam kenyataannya, lebih berpengaruh dalam kehidupan praktis mereka, bahkan mungkin terkadang dibanding Alquran sendiri yang dalam memberikan perintah dan larangan, sering menggunakan bahasa-bahasa yang berciri general. Hadis ini memberikan tuntunan praktis untuk menjelaskan kandungan Alquran. Dominasi hadis dalam kehidupan keagamaan praktis umat Islam di antaranya disampaikan seorang sarjana beraliran kritis, George Tharabisi. Dia mengatakan bahwa pola keberagamaan umat Islam lebih didominasi oleh hadis dibanding Alquran.[1]

Rabu, 13 Januari 2016

Tarekat Alawiyah dan Nusantara


Oleh: M. Khoirul Huda



Pendahuluan
Bangsa-bangsa kepulauan Nusantara telah mengenal praktik tarekat sejak awal kedatangan Islam pada sekitar abad ke-15. Hal ini karena para penyebar Islam awal Nusantara pada umumnya merupakan penganut aliran tarekat. 

Sebut saja Nur al-Din al-Raniri yang pernah menjadi penasihat raja-raja Aceh. Al-Raniri adalah seorang habaib yang berasal dari India. Sebagaimana tradisi keluarga Alawiyyin, beliau menganut tarekat Alawiyyah. Demikian pula para tokoh yang menyebarkan Islam di Jawa yang dikenal dengan sebutan Wali Songo. Dalam catatan Alwi Shihab dan Umar Ibrahim, sembilan wali itu merupakan para sayid keturunan Arab-Hadhramaut. Al-Raniri dan Wali Songo adalah contoh peran penting keluarga Alawiyyin dalam menyebarkan Islam di kepulauan Nusantara. 

Pada abad ke-18, keluarga ini berdiaspora menyeberangi samudra menuju kota-kota di sepanjang pantai Samudera Hindia. Sejak dari pantai timur Afrika hingga pelabuhan-pelabuhan di India, Aceh, Malaka, dan Jawa. 

Mengenai motif penyebaran kaum Alawiyyin ini, para sarjana berbeda pendapat. Sebagian berpendapat bahwa migrasi itu terkait dengan urusan bisnis perdagangan. Kalau toh ada praktik penyebaran agama, itu sekadar untuk memperlancar urusan dagang mereka. Hal ini seperti digambarkan oleh Van den Bergh dalam bukunya yang terkenal Le Hadhramout Et Les Colonies Arabes Dans I’archipel Indien (Arab Hadhramaut di Kepulauan Hindia). Dia menyebut orang-orang Arab sebagai broker haji, pedagang minyak, dan kadang-kadang lintah darat. Sarjana lain berpandangan bahwa kedatangan mereka bertujuan untuk menyebarkan agama. 

Selasa, 31 Maret 2015

Hadis "Pasukan Panji Hitam" dan Penggunaanya dalam Sejarah Politik Muslim Abad Pertengahan


M. Khoirul Huda

A.     Pendahuluan
Munculnya kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS) melahirkan perdebatan di kalangan akademik. Bagi para pengkaji hadis, wacana yang mereka hadirkan banyak bersumber dari hadis-hadis Nabi. Hal ini menjadi isu menarik bagi para pengkaji hadis Nabi saw.

Penggunaan hadis untuk mendukung agenda politik kekuasaan merupakan fenomena yang jamak terjadi dalam dunia Islam. Berdirinya Daulah Bani Abbas pada abad kedua hijriah misalnya banyak didukung dengan kampanye politik yang menggunakan hadis-hadis Nabi tentang akhir zaman. Baik hadis-hadis sahih maupun yang lemah dan palsu. Para ulama hadis sudah berusaha menjernihkan persoalan dengan meneliti hadis-hadis tersebut berikut kepalsuannya. Bahkan, setelah berdirinya Daulah Bani Abbas para sarjana yang pro terhadap pemerintah saat itu mengembangkan hadis palsu dan lemah. Para ulama hadis berupaya menjernihkan situasi dengan melakukan kritik hadis. Namun, situasi saat itu sungguh unik. Pemerintah berhasil menarik simpati hampir seluruh elemen masyarakat Muslim. Terbukti berbondong para sarjana dan cerdik cendekia datang menuju pusat kota Baghdad. Kedatangan mereka merupakan bentuk dukungan dan restu terhadap pemerintahan ini. Baghdad merupakan saksi sejarah bahwa hadis Nabi pernah digunakan mendongkrak popularitasnya.[1]

Minggu, 29 Maret 2015

Rasulullah Melarang Membunuh dengan Api (2)







Dalam sebuah artikel berjudul Kalian Mencontoh Salaf Dalam Pembakaran Kalian Mencontoh Salaf Dalam Pembakaran yang ditulis oleh Syekh Husen Ibnu Mahmud dan diterjemahkan oleh Abu Sulaiman al-Arkhabili, dikatakan bahwa melakukan pembakaran terhadap manusia, pernah dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib dan Khalid bin al-Walid. 


Namun demikian, riwayat yang kuat tentang praktik pembakaran manusia hidup-hidup hanya ada satu. Yaitu yang dilakukan oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib. Dua riwayat lainnya yang melibatkan Khalifah Abu Bakar dan sahabat Khalid bin al-Walid belum penulis temukan. Karenanya, dalam pembahasan ini, penulis akan membatasi pada riwayat mengenai praktik Khalifah Ali bin Abi Thalib. Kesahihan riwayat pembakaran Khalifah Ali bin Abi Thalib dapat dipertanggungjawabkan karena riwayat tersebut disebutkan dalam kitab Sahih Ibn Hibban. Yang mengindikasikan bahwa riwayat tersebut sahih. 


Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah pernyataan sahabat dapat menjadi dalil dalam masalah agama? bagaimana jika pendapat sahabat tersebut bertentangan dengan pernyataan Nabi Muhammad saw? masih dapatkah pernyataan dijadikan pegangan?  

Sabtu, 28 Maret 2015

Rasulullah Melarang Membunuh dengan Api

M. Khoirul Huda



ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria) melakukan aksi yang benar-benar brutal. Setelah berhasil menangkap pilot Jordania, mereka membakarnya hidup-hidup. Aksi ini memicu perhatian dunia. Raja Jordania menyatakan perang secara terbuka kepada kelompok ISIS. Dia menyatakan akan memimpin secara langsung serangan terhadap kelompok tersebut. Terlepas dari kasus tersebut, sebagai ummat Islam yang mengikuti manhaj salaf, kita hendaknya berlepas diri dari perbuatan semacam itu. Membakar makhluk hidup bukan bagian dari ajaran Islam menurut manhaj salaf. Karena, perbuatan tersebut bertentangan dengan hadis-hadis sahih yang bersumber dari Rasulullah saw.
Nabi Muhammad saw. pernah melarang umatnya menggunakan api ketika mengeksekusi mati. Dalam riwayat yang sahih dikatakan, la yanbaghi li ahad an yu’addzib bin nar illa allah (tidak pantas menyiksa dengan api kecuali Allah). Hadis ini diriwayatkan dalam kitab-kitab Sirah Nabawiyyah dan kitab-kitab hadis. Kualitasnya sanadnya bermacam-macam. Ada yang sahih, ada pula yang hasan dan ada pula yang daif. Berikut ini kami sarikan riwayat-riwayat sahih tentang larangan membakar makhluk hidup.

Mikraj dalam Pandangan Sahabat

  Setelah klaim kenabian, peristiwa kontroversial yang pernah dialami Nabi Muhammad saw. adalah isra dan mikraj. Isra-mikraj bukan saja me...