Selasa, 14 Januari 2014

Metode Pemahaman Hadis dalam Lintasan Sejarah

M. Khoirul Huda

Artikel ini akan sedikit memaparkan tentang sejarah pemahaman hadis secara sepintas lalu. Sekadar menulis ulang tentang konsep pemahaman, bentuk hadis yang menjadi objek pemahaman, dan jajaran literatur yang pernah terlibat dalam wacana metode pemahaman hadis. 

Rabu, 08 Januari 2014

Pendekatan Intellectual History dalam Studi Hadis



M. Khoirul Huda
 


Artikel ini akan membincang bentuk lain hubungan dua disiplin keilmuan tersebut (ilmu hadis dan ilmu sejarah). Kita akan melihat bagaimana studi sejarah digunakan melihat persoalan hadis. Utamanya apa yang disebut sejarah intelektual atau bila Anda rajin mengunjungi dunia maya lebih populer dengan nama intellectual history. Sejarah intelektual berarti sebuah disiplin sejarah yang memfokuskan para intelektual sebagai objek kajiannya.

Senin, 30 Desember 2013

Mencairkan Hadis Nabi Mencari Ideal-Moral (Esai Tentang Pemikiran Hadis Fazlur Rahman)

M. Khoirul Huda


Saya akan sedikit curhat mengenai bacaan saya pada bukunya yang berjudul Islamic Methodology in History. Buku ini telah diindonesiakan dengan judul Membuka Pintu Ijtihad, diterbitkan oleh Penerbit Pustaka, Bandung. Buku ini mencoba menelaah metode berfikir Islam (islamic methodology) dari perspektif sejarah (history). Tujuannya, seperti dapat dilihat dalam judul edisi Indonesianya, membuka pintu ijtihad yang diyakini sementara umat Islam telah ditutup rapat

Minggu, 24 November 2013

Masalah Terbaliknnya Sanad Hadis (Implikasinya pada Kualitas Hadis serta Metode Verifikasi)

M. Khoirul Huda[1]

Pendahuluan
Otentisitas merupakan salah satu persoalan pokok dalam ilmu hadis. Para pakar ilmu ini memberikan lima ukuran dasar untuk menilai keaslian suatu hadis: [1] ‘adalah [ketaat-asasan dalam beragama], [2] dhabth [kekuatan hafalan rawi], [3] ittishal al-sanad [ketersambungan mata rantai sanad], [4] adam al-syudzudz [tidak ada kejanggalan akibat berlawanan dengan riwayat lain], dan [5] ‘adam al-‘ilal [ketiadaan cacat].[2]

Senin, 28 Oktober 2013

Muslim bin al-Ḥajjāj al-Naisābūrī dan Perannya dalam Pembentukan Ilmu Hadis (1)

M. Khoirul Huda

Pendahuluan
Abū al-usain Muslim bin al-ajjāj al-Naisābūrī (w. 261 H.) atau yang lebih populer dengan sebutan Imam Muslim, penulis kitab aḥīḥ Muslim memiliki peran penting dalam pembentukan ilmu hadis. Sumbangannya atas disiplin ini dapat ditemukan pada karya-karyanya yang cukup melimpah. M.M. Azami mencatat 21 daftar karya tulisnya yang sebagian masih berbentuk manuskrip (tulisan tangan) (1982: 154-157). Hal ini menegaskan tidak saja atas usahanya yang cukup keras dalam memburu hadis-hadis Nabi saw. melalui kerja rilah (perjalanan) sebagaimana dilakukan oleh para ahli hadis pada umumnya, tapi juga mematahkan kesan umum atau bahkan “klaim” bahwa ahli hadis tidak melakukan pengamatan, penelitian, dan kerja-kerja keilmuan yang bersifat analisis. Sebaliknya, mereka merupakan kelompok ilmuan yang berusaha mendasarkan diri pada data, yang terkadang bahkan bersifat sangat empiris.

Rabu, 09 Oktober 2013

Membaca I’Jāz al-Qur’ān dalam Wacana Sarjana Muslim

 M. Khoirul Huda

A.       Pendahuluan
Tiga agama besar semitik cukup akrab dengan diskursus mukjizat yang diyakini sebagai bukti kemahakuasaan sekaligus kemahabesaran Tuhan. Dan dalam Islam, diskursus mukjizat memiliki sejarahnya sendiri. Dimulai oleh perdebatan teologis, mukjizat berkembang secara simultan bergerak menuju pembuktian aspek estetik al-Quran.[1]
Perdebatan yang melibatkan kelompok-kelompok besar muslim ini berakhir pada pembakuan pemikiran tentang mukjizat, bukan hanya dalam problem-problem yang berkaitan dengan al-Quran tapi juga seluruh dimensi studi keislaman. Kalam meneguhkan kekufuran pengingkar mukjizat, kolektor hadis menyuguhkan riwāyah tentang hal-hal supra-rasional yang mendukung inti kemukjizatan (secara umum), para faqih merumuskan hukuman bagi para pengingkar, dan para kritikus sastra berdebat soal struktur kata dan makna seperti apa yang disebut mu’jiz.

Ikhtilâf al-Hadîts Karya al-Syafi’i [1]

M. Khoirul Huda

Abstrak

Kajian hadis-hadis bertentangan telah dimulai sejak sebelum masa al-Syafi’i. Namun, baru di tangan al-Syafi’i, kajian ini menemukan bentuk teoretisnya terutama melalui karya yang berjudul Ikhtilâf al-Hadîts. Karya ini muncul sebagai bagian dari usaha al-Syafi’i dalam mengkonstruksi bangunan fikih, terutama aliran ahli hadis dengan memberikan penguatan pada basis teoretisnya untuk menghadapi serangan ahli ra’yu, inkar al-Sunnah, dan kelompok Kalam. Al-Syafi’i merasa berkepentingan meneguhkan eksistensi sunnah dengan segala variannya. Secara intern, al-Syafi’i harus menghadapi dan menyelesaikan problem hadis-hadis yang saling bertentangan yang merupakan celah yang dapat dimanfaatkan kaum yang menolak hadis sebagai bagian dari syariah. Di sinilah perlunya mengetahui perjalanan awal Mukhtalif al-Hadîts.

Kata Kunci:  Mukhtalif, Ikhtilaf, Hadis, al-Syafi’i

Mikraj dalam Pandangan Sahabat

  Setelah klaim kenabian, peristiwa kontroversial yang pernah dialami Nabi Muhammad saw. adalah isra dan mikraj. Isra-mikraj bukan saja me...