HADIS-HADIS DALAM FATWA DEWAN SYARIAH NASIONAL TENTANG ASURANSI SYARIAH
Oleh, Abdul Karim
Munthe [1]
Pendahuluan
Fatwa Dewan Syariah Nasional menjadi hukum materil dalam penyelenggaraan
perusahaan yang berbasis hukum Islam. Usaha yang dilakukan dengan dasar hukum
Islam mulai berkembang sejak terjadinya krisis ekonomi besar-besaran pada tahun
1998 seiring dengan gonjang ganjingnya politik yang berimbas pada
turunnya Soeharto atas desakan mahasiswa pada masa itu.
Sebenarnya sejak tahun 1992 usaha syariah telah lahir atas inisiatif
cendikiawan yang berasal dari Ikatan Cendikiawan Muslim (disingkat ICMI) dengan
lembaga sosial masyarakat yang bernama MUI. Inisiatif tersebut dimusyawarahkan
maka lahirlah lembaga keuangan yang pertama kali berbasis syariah yaitu Bank
Mu’amalat.
Sebagaimana layaknya lembaga keuangan yang berbadan hukum maka seharusnya
setiap usaha yang dilakukan harus memiliki dasar hukum dalam bentuk
undang-undang. Akan tetapi pada masa ini walaupun belum ada undang-undang yang
mengatur tentang usaha syariah khususnya perbankan Bank Mu’amalat dapat
beroperasi dengan mengambil celah yang memberikan kebolehan berusaha
berdasarkan prinsip bagi hasil, yang sebenarnya telah ada dan menjadi hukum
adat di masyarakat Indonesia.
Usaha dengan label “syariah” hanya ditemukan di negara Indonesia. Lembaga
internasional dan negara-negara lain untuk mengatakan usaha yang berbasis
syariah menggunakan islam. Oleh karenanya kita tidak akan menemukan
istilah-istilah dalam ekonomi Islam internasional dengan kata “syariah” mereka
menggunakan “Islam”. Sebagaimana Islamic Banking, Islamic Insurance, Islamic
Economic, dsb. Ada yang mengatakan pada masa itu kata “Islam” diindikasikan
negative oleh pemerintah.
Setelah 1998 terjadi krisis ekonomi besar-besaran banyak perbankan dan
usaha-usaha bankrut. Sehingga banyak dari bank-bank yang mapan harus merger,
konsolidasi, atau akuisisi[2]
demi meneruskan usahanya. Bank Mu’amalat saat itu mampu bertahan dari goncangan
ekonomi dan politik, karena sistem bagi hasil yang dia terapkan. Atas kejadian
itu banyak pengusaha yang melirik usaha syariah yang kemudian berkembang sampai
saat ini.
Sebagai usaha syariah maka hukum Islam lah yang menjadi dasar berdirinya
usaha syariah. Pemerintah memberikan
kewenangan tersebut kepada MUI untuk memberikan dasar hukum halal atau haram
dari sebuah usaha. MUI sebagai lembaga yang diberikan wewenang oleh UU untuk mengeluarkan
fatwa tersebut membentuk DSN yang di bawahnya terdapat Dewan Pengawas Syariah
(DPS) yang bersentuhan langsung dengan perusahaan syariah.
Atas dasar itu penelitian terhadap fatwa yang dikeluarkan oleh DSN
menjadi penting karena hal ini berkaitan dengan halal atau haram. Hadis sebagai
penjelas Alquran bahkan sebagai hukum baru menjadi penting untuk dibahas dalam
fatwa DSN. Karena umumnya usaha yang dilakukan sekarang ini bersifat
kontemporer. Ijtihad dan interpretasi terhadap Alquran dan Hadis lah dasar
utama dalam menghukumi sesuatu dengan didukung oleh ijtihad ulama-ulama
sebelumnya.
Akan tetapi dari banyak penelitian yang dilakukan oleh peneliti muslim
terhadap fatwa DSN seperti Prof. Dr. Atho’ Mudzhar, Cholil Nafis, dsb, masih
meneliti seputar fatwa tersebut kemudian dikaitkan dengan dogma hukum Islam
klasik, walaupun ada juga yang mengaitkannya dengan ulama kontemporer. Akan
tetapi penelitian terhadap hadis yang digunakan oleh DSN belum pernah dilakukan
sebelumnya. Padahal Hadis adalah sumber hukum yang utama setelah Alquran.
Atas dasar itu penelitian ini menjadi penting untuk dilakukan. Karena
apabila kesalahan pengambilan sumber dilakukan, maka kemungkinan besar
kesalahan pada istimbat hukum juga dapat terjadi kesalahan.
DSN Dalam
Membentuk Fatwa
DSN sebagai lembaga yang dibentuk oleh MUI untuk mengeluarkan fatwa dalam
bidang usaha syariah telah lama berlangsung, dan telah banyak fatwa yang
dikeluarkan dalam bidang Perbankan, Asuransi, Pasar Modal, Pegadaian, Pasar
Modal, Pasar Uang, Penanaman Modal, dll. Sesuai dengan kebutuhan dan permintaan
dari DPS yang berasal dari pertanyaan atau permohonan pelaku usaha.
DSN sebagai lembaga keagamaan
selain diberikan wewenang untuk mengeluarkan fatwa dalam bidang ekonomi syariah
tugas lainnya adalah sebagai berikut:
1. Menumbuh-kembangkan penerapan
nilai-nilai syariah dalam kegiatan perekonomian pada umumnya dan keuangan pada
khususnya.
2.
Mengeluarkan fatwa atas
jenis-jenis kegiatan keuangan.
3.
Mengeluarkan fatwa atas produk
dan jasa keuangan syariah.
Fatwa dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai jawaban atau pendapat yang
diberikan oleh mufti tentang suatu masalah.[4]
Sedangkan dalam literatur fikih fatwa diarikan sebagai produk hukum yang dihasilkan seorang mujtahid.
Mujtahid dalam arti telah memenuhi syarat diterimanya sebagai mujtahid.
Sebagai lembaga yang
mengeluarkan fatwa MUI memiliki standar dan tata cara khusus dalam mengeluarkan
fatwa. Berikut tata cara MUI dalam mengeluarkan fatwa:
1. Sebelum
fatwa ditetapkan hendaklah ditinjau lebih dahulu pendapat para imam mazhab
tentang masalah yang akan difatwakan tersebut, secara seksama berikut
dalil-dalilnya.
2. Masalah yang telah jelas hukumnya (al-ahkam
al-qath’iyyat) hendaklah disampaikan sebagaimana adanya.
3. Dalam masalah yang terjadi khilafiyah di
kalangan mazhab, maka
a. penetapan fatwa didasarkan pada hasil usaha
penemuan titik temu di antara pendapat-pendapat mazhab melalui metode al-jam’u
wa al-taufiq; dan
b. jika usaha penemuan titik temu tidak berhasil
dilakukan, penetapan fatwa didasarkan pada hasil tarjih melalui metode muqaranah
al-mazahib dengan menggunakan kaidah-kaidah Ushul Fiqh Muqaran.
4. Dalam masalah yang tidak ditemukan pendapat
hukumnya di kalangan mazhab, penetapan fatwa didasarkan pada hasil ijtihad
jama’i (kolektif) melalui metode bayani, ta’lili (qiyasi, istihsani, ilhaqi),
istishlahi, dan sadd al-zari’ah.
5. Penetapan fatwa harus senantiasa
memperhatikan kemaslahatan umum (mashalih ‘ammah) dan maqashid al-syari’ah.[5]
Fatwa DSN
tentang Asuransi Syariah
Asuransi syariah adalah antithesis dari asuransi yang selama ini berjalan
yang berdasarkan bunga. Berasuransi berarti menjaminkan diri atas segala
resiko-resiko yang akan dihadapi. Dalam asuransi konvensional terdiri dari dua
resiko yaitu: resiko kerugian dan resiko jiwa atau dalam asuransi syariah
keluarga dan umum.
Tujuan asuransi syariah dengan asuransi konvensional pada dasarnya adalah
sama, yaitu mengurangi kerugian yang akan dihadapi. Akan tetapi terdapat
perbedaan prinsip anatara keduanya. Pada asuransi konvensional resiko dialihkan
kepada pihak perusahaan (penanggung) sedangkan pada asuransi syariah resiko
tetap ditanggung oleh tertanggung (pemegang polis) akan tetapi juga ditanggung
oleh tertanggung lainnya (anggota polis). Oleh karenanya dalam asuransi syariah
ada dua rekening. Rekening pertama saving dan rekening kedua non
saving. Dengan dua akad yaitu akad tijarah dan tabarru’.
Sebagai lembaga pembiayaan tentunya asuransi syariah pun sama dengan
asuransi konvensional yaitu sama-sama mengambil keuntungan. Akan tetapi
keuntungan asuransi syariah adalah hasil dari investasi dana yang diperoleh
dari nasabah dengan akad tijarah.
Ada tujuh fatwa yang dikeluarkan oleh DSN yang berkaitan dengan usaha
perasuransian syariah. Berikut data fatwa dan hadis yang dikeluarkan oleh DSN
dalam fatwanya.
Jumlah
Penggunaan
|
Matan Hadis
|
No
|
6
kali
|
من فرج عن مسلم كربة من كرب الدنيا، فرج الله عنه كربة
من كرب يوم القيامة، والله في عون العبد مادام العبد في عون أخيه
|
1
|
3
kali
|
مثل
المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم مثل الجسد إذا اشتكى منه عضو تداعى له
سائر الجسد بالسهر و الحمى
|
2
|
4
kali
|
عنْ أَبِي مُوسَى
الْأَشْعَرِيِّ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
«الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا»
|
3
|
7
kali
|
والمسلمون على شروطهم، إلا شرطاً حرم حلالاً، أو أحل
حراماً
|
4
|
1
kali
|
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وإنما لكل امرىء ما نوى
|
5
|
2
kali
|
نَهَى
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ
|
6
|
2 kali
|
إِن خيرَكم أحسنُكم قضاء
|
7
|
5
kali
|
لَا
ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
|
8
|
1
kali
|
حَجٌّ
مَبْرُورٌ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةَ
|
9
|
1
kali
|
إن الله تعالى يَقُولُ:
«أَنَا ثَالِثُ الشَّرِيكَيْنِ مَا لَمْ يَخُنْ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ، فَإِذَا
خَانَ خَرَجْتُ مِنْ بَيْنِهِمَا» وَهَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ وَلَمْ
يُخَرِّجَاهُ "
|
10
|
1
kali
|
مَنْ وَلِيَ يَتِيمًا لَهُ مَالٌ فَلْيَتَّجِرْ لَهُ
وَلَا يَتْرُكْهُ حَتَّى تَأْكُلَهُ الصَّدَقَةُ
|
11
|
1
kali
|
حَدَّثَنَا
عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، حَدَّثَنَا شَبِيبُ بْنُ
غَرْقَدَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ الحَيَّ يُحَدِّثُونَ، عَنْ عُرْوَةَ: أَنَّ
النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «أَعْطَاهُ دِينَارًا يَشْتَرِي
لَهُ بِهِ شَاةً، فَاشْتَرَى لَهُ بِهِ شَاتَيْنِ، فَبَاعَ إِحْدَاهُمَا بِدِينَارٍ،
وَجَاءَهُ بِدِينَارٍ وَشَاةٍ، فَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ فِي بَيْعِهِ،
وَكَانَ لَوِ اشْتَرَى التُّرَابَ لَرَبِحَ فِيهِ
|
12
|
1
kali
|
عَنْ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ اللَّهُ،
عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ رَجُلًا مِنَ
الْأُسْدِ عَلَى الصَّدَقَاتِ يُقَالُ لَهُ ابْنُ اللُّتَيْبَةِ فلما جاء حاسبه
|
13
|
1
kali
|
عَنْ
بُسْرِ بْنِ سَعِيدٍ أَنَّ ابْنَ السَّعْدِيِّ الْمَالِكِيَّ قَالَ:
اسْتَعْمَلَنِي عُمَرُ عَلَى الصَّدَقَةِ، فَلَمَّا فَرَغْتُ مِنْهَا
وَأَدَّيْتُهَا إلَيْهِ أَمَرَ لِي بِعُمَالَةٍ، فَقُلْتُ: إنَّمَا عَمِلْتُ
لِلَّهِ، فَقَالَ: خُذْ مَا أُعْطِيتَ، فَإِنِّي عَمِلْتُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ
اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فَعَمَّلَنِي، فَقُلْتُ مِثْلَ
قَوْلِكَ، فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -:
«إذَا أُعْطِيتَ شَيْئًا مِنْ غَيْرِ أَنْ تَسْأَلَ فَكُلْ وَتَصَدَّقَ»
|
14
|
1
kali
|
عنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أن رسول
الله صلى الله عليه وسلم، قَالَ: «العَائِدُ فِي هِبَتِهِ كَالكَلْبِ يَعُودُ
فِي قَيْئِهِ
|
15
|
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis maka ditemukan beberapa
hal sebagai berikut:
1. Penulis
menemukan bahwa hadis yang dicantumkan dalam konsideran tersebut tidak sesuai
dengan apa yang ditemukan dalam kitab rujukannya.
2. Dalam
penulisan hadis DSN tidak konsisten dalam mencantumkan sanad. Sehingga ada yang
ditemukan sanadnya secara lengkap dan ada juga yang tidak menggunakan sanad.
3. Bahwa
masih terdapat kesalahan dalam mengutip hadis atau peringkasan pengutipan,
sehingga terjadi muharrof bahkan pengurangan matan hadis dari matan aslinya.
4. Hadis
yang dicantumkan dalam konsideran belum memadai bahkan ada hadis yang
seharusnya dicantumkan dalam konsideran tersebut akan tetapi tidak dicantumkan.
5. Ada
juga hadis yang dicantumkan masih dalam perdebatan kesohihannya bahkan ada yang
dikatakan dhoif, padahal hadis lain yang semakna dengan hadis tersbut masih banyak
ditemukan yang shohih.
6.
Dalam
menyebutkan istilah-istilah hadis disana tidak seragam, diperlukan keseragaman
dalam penyebutannya sehingga tidak terjadi kesalah pahaman.
Dari penemuan tersebut
DSN seharusnya dalam mengeluarkan fatwa harus lebih memperhatikan pengutipan
hadis-hadis yang sesuai dengan tema yang dibahas, sehingga kesalahan dalam
pengutipan tidak terjadi. Dalam pengutipan hadis seharusnya DSN memperhatikan
kitab hadis yang dikutip. Sudah menjadi kewajiban dalam menetapkan hukum hadis
sebagai dasar pertimbangan harus mengutip langsung dari buku induknya sebagai
sumber primer, tidak sebatas pada buku sekunder. Seperti kitab hadis yang
merupakan ringkasan atau kumpulan hadis-hadis hukum.
Untuk memberikan
penjelasan yang utuh penulis melampirkan hadis-hadis yang dicantumkan oleh DSN
kemudian penulis membandingkannya dengan kitab hadis yang ada, tentang hadis
yang sama, dengan mencantumkan sumber yang sama dengan apa yang dicanmkan dalam
konsideran atau Hadis yang sama. Sehingga kedua hal itu lah yang menjadi dasar
pencarian dan perbandingan penelitian ini.
Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat.
Penelitian ini masih permulaan, masih banyak fatwa DSN lainnya yang belum
diteliti hadi-hadisnya. Diperlukan penelitian lebih lanjut sehingga dapat
memberikan informasi yang holistik.
Wallahu a’lam bishshowab.
[1]
Makalah ini disampiakan pada diskusi yang dilaksanakan oleh el-Bukhari
Institute pada hari Sabtu, 18 Januari 2013, pukul 07.00 – 09.00 wib.
[2] Merger
(penggabungan usaha) adalah penggabungan dari dua bank atau lebih dengan cara
tetap mempertahankan berdirinya salah satu bank dan melikuidasi bank-bank
lainnya. Konsolidasi (peleburan usaha) adalah penggabungan dari dua bank
atau lebih dengan cara mendirikan bank baru dan melikuidasi bank-bank yang ada.
Akuisisi adalah pengambilalihan kepemilikan suatu bank.
[3]http://www.mui.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=55:tentang-dewan-syariah-nasional&catid=39:dewan-syariah-nasional&Itemid=58
[5] Ali Musthafa Ya’qub, Prosedur Penetapan
Fatwa Majlis Ulama Indonesia, makalah dipresentasikan pada Seminar Manhaj
Pengeluaran Fatwa Peringkat Kebangsaan, Kolej Universiti Islam Malaysia
(KUIM), 13-16 Dzulqa’dah 1427/04-07 Desember 2006, h.
9-11.
Lampiran
Perbandingan Hadis
yang digunakan oleh DSN dengan sumbernya
NO
|
NO FATWA
|
HADIS DSN
|
Dalam kitab aslinya
|
1
|
NO:
21/DSN-MUI/X/2001
Tentang
PEDOMAN UMUM ASURANSI SYARI’AH
|
من
فرج عن مسلم كربة من كرب الدنيا، فرج الله عنه كربة من كرب يوم القيامة، والله في
عون العبد مادام العبد في عون أخيه (رواه مسلم)
Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah.
[tidak ada dalam kitab muslim]
مثل
المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم مثل الجسد إذا اشتكى منه عضو تداعى له
سائر الجسد بالسهر و الحمى (رواه مسلم عن النعمان بن بشير)
عنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ، عَنِ النَّبِيِّ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ
كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا»
Diriwayatkan dari Muslim dari
Abi Musa
والمسلمون على
شروطهم، إلا شرطاً حرم حلالاً، أو أحل حراماً
Diriwayatkan oleh Tirmizi
dari ‘Amr bin ‘Auf
إِنَّمَا
الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وإنما لكل امرىء
ما نوى
Diriwayatkan
oleh Bukhari dan Muslim dari Umar bin
Khattab
نَهَى رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ
Diriwayatkan oleh Muslim,
Tirmizi, Nasai, Abu Daud, Ibn Majah dari Abi Hurairah
إِن خيرَكم
أحسنُكم قضاء
Diriwayatkan oleh Bukhari
لَا ضَرَرَ وَلَا
ضِرَارَ
Diriwayatkan oleh Ibn Majah
dari Ubadah bin al-Shomit, Ahmad dari Ibn ‘Abbas dan Malik dari Yahya
|
المعجم الأوسط (1/
63(
178_ وَعَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: «مَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فِي الدُّنْيَا فَرَّجَ
اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يومِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ عَوْرَةَ
مُسْلِمٍ سَتَرَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى
مُسْلِمٍ، يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَاللَّهُ فِي حَاجَةِ
الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ»
صحيح ابن حبان -
محققا (2/ 292)
[534]
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ صَالِحِ بْنِ ذَرِيحٍ بِعُكْبَرَا قَالَ حَدَّثَنَا
عَبْدُ الْأَعْلَى بْنُ حَمَّادٍ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ
مُحَمَّدِ بْنِ وَاسِعٍ وَأَبِي سُورَةَ عَنِ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
"مَنْ سَتَرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا
وَالْآخِرَةِ وَمَنْ فَرَّجَ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ
كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كان العبد في عون
أخيه.
صحيح ابن حبان - محققا (2/ 293)
إسناده صحيح على شرط مسلم، وأبو سورة هذا
الذي قرنه بمحمد بن واسع لم أتبينه
السنن الكبرى
للنسائي (6/ 466(
7246 -
أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ حَبِيبِ بْنِ عَرَبِيٍّ، قَالَ: حَدَّثَنَا حَمَّادٌ
وَهُوَ ابْنُ زَيْدٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ وَاسِعٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي رَجُلٌ
عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ
الدُّنْيَا فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الْآخِرَةِ، وَمَنْ
سَتَرَ أَخَاهُ الْمُؤْمِنَ فِي الدُّنْيَا سَتَرَهُ اللهُ فِي الْآخِرَةِ
وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ، مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ»
مسند أحمد ط
الرسالة (30/ 323)
18373 -
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ زَكَرِيَّا، قَالَ: حَدَّثَنَا عَامِرٌ،
قَالَ: سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ يَخْطُبُ يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ
فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ (3) مَثَلُ الْجَسَدِ،
إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ شَيْءٌ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ
وَالْحُمَّى " (4)
(4) إسناده صحيح على شرط الشيخين
صحيح مسلم (4/
1999)
66 -
(2586) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ نُمَيْرٍ، حَدَّثَنَا
أَبِي، حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ
بَشِيرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ
مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ
بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
صحيح مسلم (4/
1999)
65 -
(2585) حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَأَبُو عَامِرٍ
الْأَشْعَرِيُّ، قَالَا: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ إِدْرِيسَ، وَأَبُو
أُسَامَةَ، ح وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ أَبُو كُرَيْبٍ،
حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ، وَابْنُ إِدْرِيسَ وَأَبُو أُسَامَةَ، كُلُّهُمْ
عَنْ بُرَيْدٍ، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِي مُوسَى، قَالَ: قَالَ رَسُولُ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ
كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا»
عَنِ ابْنِ
عَبَّاسٍ، قَالَ: «نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ
بَيْعِ الْغَرَرِ» ابن ماجه
عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ، قَالَ: «نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ، وَعَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ» ابن ماجه
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: «نَهَى رَسُولُ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ، وَعَنْ بَيْعِ
الْغَرَرِ» مسلم
سمعت عمر بن الخطاب رضي الله عنه على المنبر قال سمعت
رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقول (إنما الأعمال بالنيات وإنما
لكل امرىء ما نوى فمن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها أو إلى امرأة ينكحها فهجرته
إلى ما جاهر إليه)
عَنْ عُبَادَةَ
بْنِ الصَّامِتِ، «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
قَضَى أَنْ لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ» ابن ماجه
عَنِ ابْنِ
عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا
ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ» ابن ماجه
عَنِ ابْنِ
عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا
ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ، وَلِلرَّجُلِ أَنْ يَجْعَلَ خَشَبَةً فِي حَائِطِ
جَارِهِ، وَالطَّرِيقُ الْمِيتَاءُ سَبْعَةُ أَذْرُعٍ» احمد
موطأ مالك ت عبد الباقي (2/ 745(
31 - حَدَّثَنِي يَحْيَى، عَنْ مَالِكٍ،
عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى الْمَازِنِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ»
|
2
|
NO: 39/DSN-MUI/X/2002
Tentang ASURANSI HAJI
|
حَجٌّ مَبْرُورٌ
لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةَ . متفق عليه (متفق عليه)
Hadis
yang mejelaskan keutamaan haji masih banyak selain hadis ini. akan tetapi
yang dipilih ada hadis yang kualitasnya dhoif.
|
مسند أحمد ط
الرسالة (22/ 438(
_14582حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ، حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ ثَابِتٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُنْكَدِرِ، عَنْ
جَابِرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "
حَجٌّ مَبْرُورٌ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةَ "، قَالَوا: يَا
نَبِيَّ اللهِ، مَا بِرُّ الْحَجُّ؟ قَالَ: " إِطْعَامُ الطَّعَامِ،
وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ " (2)
(2) إسناده ضعيف. وهو مكرر (14482.
صحيح البخاري
(1/ 14(
26 – حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ،
وَمُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، قَالاَ: حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ،
قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ شِهَابٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ المُسَيِّبِ، عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ:
أَيُّ العَمَلِ أَفْضَلُ؟ فَقَالَ: «إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ». قِيلَ:
ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: «الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ» قِيلَ: ثُمَّ مَاذَا؟
قَالَ: «حَجٌّ مَبْرُورٌ»
صحيح مسلم (1/ 88(
135 – (83)
وَحَدَّثَنَا مَنْصُورُ بْنُ
أَبِي مُزَاحِمٍ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ ح، وَحَدَّثَنِي
مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرِ بْنِ زِيَادٍ، أَخْبَرَنَا إِبْرَاهِيمُ، يَعْنِي ابْنَ
سَعْدٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ، عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ، قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ
الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «إِيمَانٌ بِاللهِ»، قَالَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ:
«الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ» قَالَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: «حَجٌّ مَبْرُورٌ»،
وَفِي رِوَايَةِ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرٍ قَالَ: «إِيمَانٌ بِاللهِ وَرَسُولِهِ»
وَحَدَّثَنِيهِ مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ، وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ، عَنْ عَبْدِ
الرَّزَّاقِ، أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ بِهَذَا الْإِسْنَادِ
مِثْلَهُ
|
3
|
NO:
50/DSN-MUI/III/2006
Tentang
AKAD MUDHARABAH MUSYTARAKAH
|
Dalam fatwa ini tidak ditemukan hadis yang baru,
semuanya telah dijelaskan pada hadis-hadis sebelumnya.
|
|
4
|
NO: 51/DSN-MUI/III/2006
Tentang AKAD MUDHARABAH
MUSYTARAKAH
PADA ASURANSI SYARIAH
|
إن الله تعالى يَقُولُ:
«أَنَا ثَالِثُ الشَّرِيكَيْنِ مَا لَمْ يَخُنْ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ، فَإِذَا
خَانَ خَرَجْتُ مِنْ بَيْنِهِمَا» وَهَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ وَلَمْ
يُخَرِّجَاهُ "
Diriwayatkan
oleh Abu Daud dan dishahihkan oleh Hakim dari Abi Hurairah
|
المستدرك على
الصحيحين للحاكم (2/ 60(
2322 - أَخْبَرَنِي أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ
أَحْمَدَ بْنِ بَالَوَيْهِ، ثنا الْحُسَيْنُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ شَبِيبٍ
الْمَعْمَرِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْمِصِّيصِيُّ، ثنا أَبُو
هَمَّامٍ مُحَمَّدُ بْنُ الزِّبْرِقَانِ، ثنا أَبُو حَيَّانَ التَّيْمِيُّ، عَنْ
أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " يَقُولُ اللَّهُ: «أَنَا
ثَالِثُ الشَّرِيكَيْنِ مَا لَمْ يَخُنْ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ، فَإِذَا خَانَ
خَرَجْتُ مِنْ بَيْنِهِمَا» وَهَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ وَلَمْ
يُخَرِّجَاهُ "
[التعليق - من
تلخيص الذهبي] 2322 – صحيح
سنن أبي داود
(3/ 256(
3383 - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سُلَيْمَانَ
الْمِصِّيصِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الزِّبْرِقَانِ، عَنْ أَبِي حَيَّانَ
التَّيْمِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَفَعَهُ قَالَ: "
إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ: أَنَا ثَالِثُ الشَّرِيكَيْنِ مَا لَمْ يَخُنْ
أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ، فَإِذَا خَانَهُ خَرَجْتُ مِنْ بَيْنِهِمَا "
[حكم الألباني]
: ضعيف
السنن الصغير
للبيهقي (2/ 307(
2104 -
أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ، أَخْبَرَنِي أَبُو بَكْرٍ
مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ بَالَوَيْهِ، ثنا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ
شَبِيبٍ الْمَعْمَرِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْمِصِّيصِيُّ، ثنا
أَبُو هَمَّامٍ مُحَمَّدُ بْنُ الزِّبْرِقَانِ، ثنا أَبُو حَيَّانَ
التَّيْمِيُّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ
وَجَلَّ: أَنَا ثَالِثُ الشَّرِيكَيْنِ مَا لَمْ يَخُنْ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ،
فَإِذَا خَانَ خَرَجْتُ مِنْ بَيْنِهِمَا"
|
5
|
NO:
53/DSN-MUI/III/2006
Tentang
AKAD
TABARRU’
PADA
ASURANSI SYARI’AH
|
مَنْ
وَلِيَ يَتِيمًا لَهُ مَالٌ فَلْيَتَّجِرْ لَهُ وَلَا يَتْرُكْهُ حَتَّى
تَأْكُلَهُ الصَّدَقَةُ
Diriwayatkan oleh Tirmizi, Darul Quthni, Baihaqi
dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya Abdullah bin ‘Auf bin ‘Ash.
|
سنن
الترمذي ت شاكر (3/ 23(
641
– حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ قَالَ: حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ
مُوسَى قَالَ: حَدَّثَنَا الوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، عَنْ المُثَنَّى بْنِ الصَّبَّاحِ،
عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، [ص:24] عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، أَنَّ
النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ النَّاسَ فَقَالَ: «أَلَا
مَنْ وَلِيَ يَتِيمًا لَهُ مَالٌ فَلْيَتَّجِرْ فِيهِ، وَلَا يَتْرُكْهُ حَتَّى
تَأْكُلَهُ الصَّدَقَةُ»: «وَإِنَّمَا رُوِيَ هَذَا الحَدِيثُ مِنْ هَذَا
الوَجْهِ، وَفِي إِسْنَادِهِ مَقَالٌ، لِأَنَّ المُثَنَّى بْنَ الصَّبَّاحِ
يُضَعَّفُ فِي الحَدِيثِ»،
سنن
الدارقطني (3/ 5(
1970
– حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ الْمِصْرِيُّ , ثنا الْحَسَنُ بْنُ
غُلَيْبٍ الْهُذَلِيُّ الْأَزْدِيُّ , ثنا سَعِيدُ بْنُ عُفَيْرٍ , ثنا يَحْيَى
بْنُ أَيُّوبَ , عَنِ الْمُثَنَّى بْنِ الصَّبَّاحِ , عَنْ عَمْرِو بْنِ
شُعَيْبٍ , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ جَدِّهِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ
الْعَاصِ , أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ
فَخَطَبَ النَّاسَ , فَقَالَ: «مَنْ
وَلِيَ يَتِيمًا لَهُ مَالٌ فَلْيَتَّجِرْ لَهُ وَلَا يَتْرُكْهُ حَتَّى تَأْكُلَهُ
الصَّدَقَةُ»
السنن
الكبرى للبيهقي (4/ 179(
7339
– أَخْبَرَنَاهُ أَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَارِثِ
الْفَقِيهُ , أنبأ أَبُو مُحَمَّدِ بْنُ حَيَّانَ الْأَصْبَهَانِيُّ، ثنا
إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ، ثنا أَبُو عَامِرٍ الدِّمَشْقِيُّ،
ثنا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، حَدَّثَنِي الْمُثَنَّى بْنُ الصَّبَّاحِ، عَنْ
عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " أَلَا مَنْ وَلِيَ يَتِيمًا لَهُ مَالٌ
فَلْيَتَّجِرْ لَهُ فِيهِ وَلَا يَتْرُكْهُ تَأْكُلُهُ الزَّكَاةُ "
وَرُوِيَ عَنْ مِنْدَلِ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ الشَّيْبَانِيِّ عَنْ
عَمْرٍو بِمَعْنَاهُ , وَالْمُثَنَّى وَمَنْدَلٌ غَيْرُ قَوِيَّيْنِ
|
6
|
NO: 52/DSN-MUI/III/2006
Tentang
AKAD WAKALAH BIL UJRAH
PADA ASURANSI SYARI’AH DAN
REASURANSI SYARI’AH
|
حَدَّثَنَا
عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، حَدَّثَنَا شَبِيبُ بْنُ
غَرْقَدَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ الحَيَّ يُحَدِّثُونَ، عَنْ عُرْوَةَ: أَنَّ
النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «أَعْطَاهُ دِينَارًا يَشْتَرِي
لَهُ بِهِ شَاةً، فَاشْتَرَى لَهُ بِهِ شَاتَيْنِ، فَبَاعَ إِحْدَاهُمَا
بِدِينَارٍ، وَجَاءَهُ بِدِينَارٍ وَشَاةٍ، فَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ فِي
بَيْعِهِ، وَكَانَ لَوِ اشْتَرَى التُّرَابَ لَرَبِحَ فِيهِ
Diriwayatkan
oleh Bukhari.
[dalam
penulisannya dilengkapi dengan sanad serta daftar pustaka. Sedangkan untuk
hadis yang lainnya tidak demikian. Oleh karena itu diperlukan format
yang seragam dalam penulisannya]
عَنْ أَبِي
حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ اللَّهُ، عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ رَجُلًا مِنَ الْأُسْدِ عَلَى الصَّدَقَاتِ يُقَالُ
لَهُ ابْنُ اللُّتَيْبَةِ فلما جاء حاسبه
Diriwayatkan
oleh Bukhari
[sama
dengan di atas]
عَنْ بُسْرِ
بْنِ سَعِيدٍ أَنَّ ابْنَ السَّعْدِيِّ الْمَالِكِيَّ قَالَ: اسْتَعْمَلَنِي
عُمَرُ عَلَى الصَّدَقَةِ، فَلَمَّا فَرَغْتُ مِنْهَا وَأَدَّيْتُهَا إلَيْهِ
أَمَرَ لِي بِعُمَالَةٍ، فَقُلْتُ: إنَّمَا عَمِلْتُ لِلَّهِ، فَقَالَ: خُذْ مَا
أُعْطِيتَ، فَإِنِّي عَمِلْتُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فَعَمَّلَنِي، فَقُلْتُ مِثْلَ قَوْلِكَ، فَقَالَ لِي
رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «إذَا أُعْطِيتَ
شَيْئًا مِنْ غَيْرِ أَنْ تَسْأَلَ فَكُلْ وَتَصَدَّقَ» (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)
Hadis
ini dikutip dari Nailul Author.
[Ketika
dicek kembali ternyata hadis ini tidak ditemukan dalam kitab Bukhari, hanya
ditemukan dalam kitab Muslim]
|
صحيح البخاري
(4/ 207)
3642
- حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، حَدَّثَنَا
شَبِيبُ بْنُ غَرْقَدَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ الحَيَّ يُحَدِّثُونَ، عَنْ عُرْوَةَ:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «أَعْطَاهُ دِينَارًا
يَشْتَرِي لَهُ بِهِ شَاةً، فَاشْتَرَى لَهُ بِهِ شَاتَيْنِ، فَبَاعَ
إِحْدَاهُمَا بِدِينَارٍ، وَجَاءَهُ بِدِينَارٍ وَشَاةٍ، فَدَعَا لَهُ
بِالْبَرَكَةِ فِي بَيْعِهِ، وَكَانَ لَوِ اشْتَرَى التُّرَابَ لَرَبِحَ فِيهِ»،
قَالَ سُفْيَانُ: كَانَ الحَسَنُ بْنُ عُمَارَةَ جَاءَنَا بِهَذَا الحَدِيثِ
عَنْهُ، قَالَ: سَمِعَهُ شَبِيبٌ مِنْ عُرْوَةَ فَأَتَيْتُهُ، فَقَالَ شَبِيبٌ
إِنِّي لَمْ أَسْمَعْهُ مِنْ عُرْوَةَ، قَالَ سَمِعْتُ الحَيَّ يُخْبِرُونَهُ
عَنْهُ،
مسند البزار =
البحر الزخار (9/ 160)
3707
- حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَكِيمٍ، قَالَ: نَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنِ
الزُّهْرِيِّ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ
اللَّهُ، عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ
رَجُلًا مِنَ الْأُسْدِ عَلَى الصَّدَقَاتِ يُقَالُ لَهُ ابْنُ اللُّتَيْبَةِ
فَجَاءَ، فَقَالَ: هَذَا لَكُمْ وَهَذَا أُهْدِيَ لِي فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى
عَلَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: " مَا بَالُ الْعَامِلِ نَبْعَثُهُ عَلَى عَمَلِنَا
فَيَجِئُ فَيَقُولُ: هَذَا أُهْدِيَ لِي وَهَذَا لَكُمْ فَهَلَّا جَلَسَ فِي
بَيْتِ أَبِيهِ أَوْ فِي بَيْتِ أُمِّهِ فَيَنْظُرَ هَلْ تَأْتِيَهُ هَدِيَّةٌ
أَمْ لَا وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَأْتِي أَحَدٌ مِنْكُمْ
مِنْهَا بِشَيْءٍ سِرًّا إِلَّا جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى
رَقَبَتِهِ إِنْ كَانَ بَعِيرًا لَهُ رُغَاءٌ أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ أَوْ
شَاةً تَيْعَرُ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَةَ إِبْطَيْهِ
ثُمَّ، قَالَ: «اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ» ثَلَاثًا [ص:160] وَهَذَا الْحَدِيثُ
لَا نَعْلَمُ أَحَدًا يَرْوِيهِ بِهَذَا اللَّفْظِ إِلَّا أَبُو حُمَيْدٍ، عَنْ
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَرَوَاهُ عَنِ الزُّهْرِيِّ
جَمَاعَةٌ وَاسْتَغْنَيْنَا بِرِوَايَةِ ابْنِ عُيَيْنَةَ عَنْهُ إِلَّا أَنْ
يَزِيدَ أَحَدٌ فِيهِ فَيُكْتَبُ مِنْ أَجْلِ الزِّيَادَةِ
صحيح البخاري
(2/ 130)
1500
- حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ مُوسَى، حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، أَخْبَرَنَا
هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: «اسْتَعْمَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنَ الأَسْدِ عَلَى صَدَقَاتِ بَنِي سُلَيْمٍ، يُدْعَى ابْنَ
اللُّتْبِيَّةِ فَلَمَّا جَاءَ حَاسَبَهُ»
مسند أحمد ط
الرسالة (1/ 438)
371
- حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ، حَدَّثَنَا لَيْثٌ، حَدَّثَنِي بُكَيْرُ بْنُ عَبْدِ
اللهِ، عَنْ بُسْرِ بْنِ سَعِيدٍ عَنْ ابْنِ السَّاعِدِيِّ الْمَالِكِيِّ،
أَنَّهُ قَالَ: اسْتَعْمَلَنِي عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ عَلَى الصَّدَقَةِ،
فَلَمَّا فَرَغْتُ مِنْهَا وَأَدَّيْتُهَا إِلَيْهِ أَمَرَ لِي بِعُمَالَةٍ،
فَقُلْتُ لَهُ: إِنَّمَا عَمِلْتُ لِلَّهِ، وَأَجْرِي عَلَى اللهِ. قَالَ: خُذْ
مَا أُعْطِيتَ، فَإِنِّي قَدْ عَمِلْتُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَمَّلَنِي، فَقُلْتُ مِثْلَ قَوْلِكَ، فَقَالَ لِي
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِذَا أُعْطِيتَ شَيْئًا
مِنْ غَيْرِ أَنْ تَسْأَلَ، فَكُلْ وَتَصَدَّقْ " (2)
(2)
إسناده صحيح على شرط الشيخين. ليث: هو ابن سعد، وبكير بن عبد الله:
هو ابن الأشج. وأخرجه
الدارمي (1649) ، ومسلم (1045) (112) ، وأبو داود (1647) و (2944) ، والبزار
(245) ، والنسائي 5 / 102، وابن خزيمة (2364) ، وابن حبان =
صحيح مسلم (2/
723)
112
- (1045) حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا لَيْثٌ، عَنْ
بُكَيْرٍ، عَنْ بُسْرِ بْنِ سَعِيدٍ، عَنِ ابْنِ السَّاعِدِيِّ الْمَالِكِيِّ،
أَنَّهُ قَالَ: اسْتَعْمَلَنِي عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ
عَلَى الصَّدَقَةِ، فَلَمَّا فَرَغْتُ مِنْهَا، وَأَدَّيْتُهَا إِلَيْهِ، أَمَرَ
لِي بِعُمَالَةٍ، فَقُلْتُ إِنَّمَا عَمِلْتُ لِلَّهِ، وَأَجْرِي عَلَى اللهِ،
فَقَالَ: خُذْ مَا أُعْطِيتَ، فَإِنِّي عَمِلْتُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَمَّلَنِي، فَقُلْتُ مِثْلَ قَوْلِكَ،
فَقَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا أُعْطِيتَ
شَيْئًا مِنْ غَيْرِ أَنْ تَسْأَلَ، فَكُلْ وَتَصَدَّقْ»
نيل الأوطار (4/
195)
1594
- (عَنْ بُسْرِ بْنِ سَعِيدٍ أَنَّ ابْنَ السَّعْدِيِّ الْمَالِكِيَّ قَالَ:
اسْتَعْمَلَنِي عُمَرُ عَلَى الصَّدَقَةِ، فَلَمَّا فَرَغْتُ مِنْهَا
وَأَدَّيْتُهَا إلَيْهِ أَمَرَ لِي بِعُمَالَةٍ، فَقُلْتُ: إنَّمَا عَمِلْتُ
لِلَّهِ، فَقَالَ: خُذْ مَا أُعْطِيتَ، فَإِنِّي عَمِلْتُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ
اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فَعَمَّلَنِي، فَقُلْتُ مِثْلَ
قَوْلِكَ، فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -:
«إذَا أُعْطِيتَ شَيْئًا مِنْ غَيْرِ أَنْ تَسْأَلَ فَكُلْ وَتَصَدَّقَ»
مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ) .
|
7
|
NO: 81/DSN-MUI/III/2011
Tentang PENGEMBALIAN DANA TABARRU’ BAGI
PESERTA ASURANSI
YANG BERHENTI SEBELUM MASA PERJANJIAN BERAKHIR
|
عَنِ
ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم، قَالَ:
«العَائِدُ فِي هِبَتِهِ كَالكَلْبِ يَعُودُ فِي قَيْئِهِ
Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim
[Hadis yang diriwayatkan oleh Ibn ‘Abbas dalam kitab
syaikhani sebagaimana dicantumkan di atas ternyata tidak ditemukan redaksi
yang sama. Ada pengurangan redaksi. Kalaupun ada yang sama, hadis itu tidak
sebagaimana yang diterangkan dalam salinan fatwa tersebut, akan tetapi ditemukan
dalam kitab lain].
|
صحيح
البخاري (3/ 158)
2589
- حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ، حَدَّثَنَا
ابْنُ طَاوُسٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا،
قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «العَائِدُ فِي
هِبَتِهِ كَالكَلْبِ يَقِيءُ ثُمَّ يَعُودُ فِي قَيْئِهِ»
صحيح
البخاري (3/ 164)
2621
- حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا هِشَامٌ، وَشُعْبَةُ،
قَالاَ: حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ المُسَيِّبِ، عَنِ ابْنِ
عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «العَائِدُ فِي هِبَتِهِ كَالعَائِدِ فِي قَيْئِهِ»
صحيح
البخاري (9/ 27)
6975
- حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ أَيُّوبَ
السَّخْتِيَانِيِّ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
«العَائِدُ فِي هِبَتِهِ كَالكَلْبِ يَعُودُ فِي قَيْئِهِ، لَيْسَ لَنَا مَثَلُ
السَّوْءِ»
صحيح
مسلم (3/ 1241)
7
- (1622) وحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ،
قَالَا: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، سَمِعْتُ
قَتَادَةَ، يُحَدِّثُ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ،
عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: «الْعَائِدُ
فِي هِبَتِهِ كَالْعَائِدِ فِي قَيْئِهِ»،
صحيح
مسلم (3/ 1241)
8
- (1622) وحَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، أَخْبَرَنَا
الْمَخْزُومِيُّ، حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ طَاوُسٍ،
عَنْ أَبِيهِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ: «الْعَائِدُ فِي هِبَتِهِ، كَالْكَلْبِ يَقِيءُ، ثُمَّ يَعُودُ
فِي قَيْئِهِ»
|
Komentar
Posting Komentar