Kamis, 18 Agustus 2016

Klasifikasi Ilmu Menurut Osman Bakar*



M. Khoirul Huda



     A.     Pendahuluan
Diskusi tentang “klasifikasi ilmu pengetahuan” dalam Islam tidak dapat dilepaskan dari megaproyek “islamisasi pengetahuan”. Ide ini muncul pada pertengahan abad kedua puluh, pascakolonialisme, di tangan sejumlah pemikir-filosof Muslim Asia-Amerika seperti Ismail Raji al-Faruqi (1921-1986), Taha Jabir Alwani (1935-2016), Sayyed Hosein Nasr (1933-sekarang), Sayyed Muhammad Naquib Al Attas (1931-sekarang), dan Osman Bakar (1946-sekarang).[1] Para pemikir tersebut berupaya mengembangkan gagasan islamisasi pengetahuan melalui pendirian lembaga riset dan pendidikan. Ismail Faruqi dan Taha Jabir mendirikan International Institute of Islamic Thought (IIIT), pada 1980. Sedangkan Sayyed Naquib Al Attas mendirikan International Institute of Islamic Thought and Civilisation (ISTAC), pada 1987. Sebelumnya, pada 1977, Osman Bakar mendirikan Islamic Academy of Science (IAS).

Senin, 23 Mei 2016

Istihsan; Sejarah, Konsepsi, Argumentasi dan Aplikasi*





M. Khoirul Huda
chairool_hoeda@yahoo.co.id



“Allah menghendaki kemudahan untuk kalian, dan tidak menghendaki kesulitan.”
QS. al-Baqarah [2]: 185

“Apa yang  menurut seorang Muslim baik, maka ia baik pula menurut Allah”
Ibn Mas’ud

Sabtu, 20 Februari 2016

Ahli Hadis dan Pengalaman Spiritualnya



M. Khoirul Huda

Ahli hadis merupakan kelompok sosial yang pernah eksis ratusan tahun lalu. Mereka berkarir di bidang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan hadis-hadis Nabi Muhammad saw. Mereka mencarinya, menghafalnya, mencatat, meneliti, menyeleksi, dan terkadang memberi penjelasan serta penafsiran-penafsiran tertentu. Kelompok ini juga pernah mengalami konfrontasi dengan kelompok kesarjanaan lain saat itu. Jasa mereka dapat dilihat dari melimpahkanya literatur yang berisi koleksi hadis-hadis Nabi saw. Puncak kejayaan ahli hadis adalah sekitar abad ketiga hijriah dengan lahirnya tokoh-tokoh besar dalam bidang studi hadis seperti al-Bukhari (194-256 H.) dan Muslim (204-261 H.). Keduanya merupakan simbol kejayaan studi hadis di dunia Islam.

Senin, 08 Februari 2016

Hadis dan Tasawuf dalam Perspektif Integrasi Dialogis-Interkoneksi



M. Khoirul Huda


Prawacana; Konfrontasi Menuju Dialog
Dalam kehidupan praktis, hadis merupakan rujukan penting bagi umat Islam. Ada sejumlah alasan mengapa hadis, dalam kenyataannya, lebih berpengaruh dalam kehidupan praktis mereka, bahkan mungkin terkadang dibanding Alquran sendiri yang dalam memberikan perintah dan larangan, sering menggunakan bahasa-bahasa yang berciri general. Hadis ini memberikan tuntunan praktis untuk menjelaskan kandungan Alquran. Dominasi hadis dalam kehidupan keagamaan praktis umat Islam di antaranya disampaikan seorang sarjana beraliran kritis, George Tharabisi. Dia mengatakan bahwa pola keberagamaan umat Islam lebih didominasi oleh hadis dibanding Alquran.[1]

Rabu, 13 Januari 2016

Tarekat Alawiyah dan Nusantara


Oleh: M. Khoirul Huda



Pendahuluan
Bangsa-bangsa kepulauan Nusantara telah mengenal praktik tarekat sejak awal kedatangan Islam pada sekitar abad ke-15. Hal ini karena para penyebar Islam awal Nusantara pada umumnya merupakan penganut aliran tarekat. 

Sebut saja Nur al-Din al-Raniri yang pernah menjadi penasihat raja-raja Aceh. Al-Raniri adalah seorang habaib yang berasal dari India. Sebagaimana tradisi keluarga Alawiyyin, beliau menganut tarekat Alawiyyah. Demikian pula para tokoh yang menyebarkan Islam di Jawa yang dikenal dengan sebutan Wali Songo. Dalam catatan Alwi Shihab dan Umar Ibrahim, sembilan wali itu merupakan para sayid keturunan Arab-Hadhramaut. Al-Raniri dan Wali Songo adalah contoh peran penting keluarga Alawiyyin dalam menyebarkan Islam di kepulauan Nusantara. 

Pada abad ke-18, keluarga ini berdiaspora menyeberangi samudra menuju kota-kota di sepanjang pantai Samudera Hindia. Sejak dari pantai timur Afrika hingga pelabuhan-pelabuhan di India, Aceh, Malaka, dan Jawa. 

Mengenai motif penyebaran kaum Alawiyyin ini, para sarjana berbeda pendapat. Sebagian berpendapat bahwa migrasi itu terkait dengan urusan bisnis perdagangan. Kalau toh ada praktik penyebaran agama, itu sekadar untuk memperlancar urusan dagang mereka. Hal ini seperti digambarkan oleh Van den Bergh dalam bukunya yang terkenal Le Hadhramout Et Les Colonies Arabes Dans I’archipel Indien (Arab Hadhramaut di Kepulauan Hindia). Dia menyebut orang-orang Arab sebagai broker haji, pedagang minyak, dan kadang-kadang lintah darat. Sarjana lain berpandangan bahwa kedatangan mereka bertujuan untuk menyebarkan agama. 

Selasa, 31 Maret 2015

Hadis "Pasukan Panji Hitam" dan Penggunaanya dalam Sejarah Politik Muslim Abad Pertengahan


M. Khoirul Huda

A.     Pendahuluan
Munculnya kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS) melahirkan perdebatan di kalangan akademik. Bagi para pengkaji hadis, wacana yang mereka hadirkan banyak bersumber dari hadis-hadis Nabi. Hal ini menjadi isu menarik bagi para pengkaji hadis Nabi saw.

Penggunaan hadis untuk mendukung agenda politik kekuasaan merupakan fenomena yang jamak terjadi dalam dunia Islam. Berdirinya Daulah Bani Abbas pada abad kedua hijriah misalnya banyak didukung dengan kampanye politik yang menggunakan hadis-hadis Nabi tentang akhir zaman. Baik hadis-hadis sahih maupun yang lemah dan palsu. Para ulama hadis sudah berusaha menjernihkan persoalan dengan meneliti hadis-hadis tersebut berikut kepalsuannya. Bahkan, setelah berdirinya Daulah Bani Abbas para sarjana yang pro terhadap pemerintah saat itu mengembangkan hadis palsu dan lemah. Para ulama hadis berupaya menjernihkan situasi dengan melakukan kritik hadis. Namun, situasi saat itu sungguh unik. Pemerintah berhasil menarik simpati hampir seluruh elemen masyarakat Muslim. Terbukti berbondong para sarjana dan cerdik cendekia datang menuju pusat kota Baghdad. Kedatangan mereka merupakan bentuk dukungan dan restu terhadap pemerintahan ini. Baghdad merupakan saksi sejarah bahwa hadis Nabi pernah digunakan mendongkrak popularitasnya.[1]

Mikraj dalam Pandangan Sahabat

  Setelah klaim kenabian, peristiwa kontroversial yang pernah dialami Nabi Muhammad saw. adalah isra dan mikraj. Isra-mikraj bukan saja me...