Rabu, 08 April 2020

Pelajaran dari Jombang, Ilmu Hadis, Bu Nyai dan Pesantren Transformatif


Saya dan teman-teman saya mungkin bukan yang terbaik di bidangnya. Tingkat pendidikan kami terbilang tak tinggi-tinggi amat. Sedang dan pas-pasan. Tetapi, bukan berarti hal itu menghalangi kami untuk turut terlibat dalam upaya penguatan literasi ilmu hadis di kalangan generasi muda.
Kegiatan sejenis telah kami mulai sejak 2013. Dengan bekal ala kadarnya. Tahun 2020 ini genap tujuh tahun. Ketika kegiatan ini diapresiasi banyak pihak, dan tentu diikuti dengan penuh semangat, saya mulai menyadari bahwa kegiatan ini memang bermanfaat bagi orang lain.

Pada tahun ini, aliran kehidupan menuntun saya ke tempat yang luar biasa ini. Saya belajar tentang banyak hal. Ponpes. Assa'idiyyah 2 Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang. Di bawah asuhan Abah Hasan dan Bu Nyai Umdah. Dengan keramahan dan kerendahan hati, Bu Nyai menyambut kami serasa anak sendiri. Serasa santri pesantren itu sendiri. Bu nyai ini adalah aktivis sejak tahun 90-an. Ia kemudian memilih berperan di desanya sendiri. Ia boleh berdiam diri di daerah. Tetapi, santri-santrinya saat ini tersebar di berbagai negara yg untuk belajar (di sini ada lembaga pendidikan khusus untuk menyiapkan santri agar bisa kuliah di luar negeri, I'dadiyah), lalu kembali dan menempati posisi penting, atau menjadi aktivis dimana-mana. Dosen saya Bu Lilik Ummi Kalsum (sekarang wadek Ushuluddin UIN Jakarta), ternyata berangkat dari sini. Peneliti gender-terorisme IPAC, mbak Nava, ternyata malah puterinya (baru tahu kalau beliau hafizh 30 juz dan pintar baca kitab kuning, saya kira dulu adalah kader Muhammadiyah karena kuliahnya di UMY, hehe). Dan banyak nama individu keren lainnya yang dibicarakan dalam diskusi kami. Syukur saya pernah bertemu dengan mereka-mereka yang keren itu. Dan hari ini saya mengunjungi kawah candradimuka mereka. Mengapa tempat ini banyak menghasilkan santriwati karir?

Tentu saya tak akan menjawabnya. Tetapi, ketika mengikuti proses pelatihan kemarin, saya menemukan bahwa santri di sini memang dimotivasi kuat. Khususnya oleh Bu Nyai melalui gaya persuasinya, "Nak", "anak Lanang". Bahwa mereka harus menjadi pribadi yang kuat secara keilmuan dan keagamaan. Para peserta yang umumnya santri kelas 12 dan mahasiswa ini, tadinya kurang bersemangat karena teori ilmu hadis yang disampaikan sudah kenyang mereka pelajari. Tetapi ketika memasuki praktek, rupanya suasana berubah menjadi begitu bersemangat. Saya bahagia. Kegiatan ini berhasil menanamkan benih "rasa ingin tahu" dan "metode dasar berburu pengetahuan baru". Di sela-sela kesibukan lainnya, memberdayakan santri dan masyarakat sekitar (santri yang berasal dr keluarga tidak mampu dikaryakan di bengkel mobil dan toko agar bisa membayar uang kuliahnya, para janda tua diajak ke majelis istighatsah dan mendapat santunan), beliau masih menyempatkan menengok kegiatan kami. Memberi motivasi. Berkali-kali. Tentu ini menambah semangat peserta.
Di sini saya belajar, seperti saya pelajari dari tulisan-tulisan Gus Dur, agama dapat menjadi kekuatan transformatif bagi masyarakat. Menyentuh kebutuhan real masyarakat. Ada begitu banyak yang mengeluh soal biaya pendidikan yang mahal. Tetapi tidak banyak yang bisa mengubah keadaan ini. Apa yang dilakukan Bu Nyai Umdah adalah menjawab kebutuhan pendidikan, kemandirian dan canggihnya memanfaatkan budaya agama untuk mewujudkannya. Teori-teori Gus Dur sebenarnya agaknya menjadi antitesis teori modernitas yang cenderung membenturkan agama dan kemajuan yang bahkan diikuti membabi buta oleh sebagian modernis. Kasus dari Jombang yang masih hidup ini, dan kisah kiai-kiai dari Jombang yang dulu suka ditulis oleh Gus Dur, bisa menjadi contoh keterbatasan teori relasi agama dan modernitas itu. Tentu saja, agama transformatif ini punya syarat. Aktor agama, bukan justru memanipulasi nilai-nilai dan budaya agama menjadi mengumpulkan pundi-pundi kepentingan sendiri mengalahkan kepentingan yang lebih luas. Ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi para aktor agama.

Karenanya, Bu Nyai selalu berpesan kepada kami agar menjaga kemandirian. Sebelum kami pulang, kami diajak ke masjid yang berarsitektur Tionghoa-Mojopahit. Dengan bangga, beliau menyebut "Ini saya arsiteki sendiri lo mas...". Di samping masjid itu, ada asrama santri yang belum jadi 100 persen. Sambil kami lihat-lihat, beliau bilang, "Kalau sampean mau bikin pondok, dimulai sedikit2. Kayak ini. Saya dulu memulai Assa'idiyyah 2 dulu cuma dengan satu santri. Tiga orang. Yang dua sopir syaa." Belum puas, beliau mengajak kami mengunjungi showroom mobilnya, "Sampean gak mau bisnis ta? Ayok, tak tunjukin showroom mobil yang dikelola anak-anak. Tak dungakno sampean ketularan." Kami hanya cengar-cengir, dan hanya bilang "Siap Bu. Aamiin."

Tambak Beras, 7-8 Februari 2020.

Minggu, 05 April 2020

Cadar dan Laras Panjang: Imajinasi Perjuangan Islam?

Seorang teman mengirim foto di grup WA angkatan. Katanya, foto itu adalah potret karnaval tujuh-belasan di Probolinggo yg sedang heboh. Ada barisan anak-anak didandani mengenakan cadar hitam dan menenteng replika laras panjang. Konon, karena temanya meneladani perjuangan Rasulullah SAW.

Sejarah Sabotase Masjidil Haram

Akhirnya. Saya bisa mengkhatamkan lagi sebuah buku. Membaca detil demi detil. Hingga akhir. Buku yang berhasil saya khatamkan kali ini berjudul Kudeta Mekah, Sejarah Yang Tak Terkuak. Buku ini berisi laporan investigasi seorang wartawan yang mencoba menelusuri sebuah peristiwa tragis tetapi tidak banyak orang tahu. Disebut tidak banyak yang tahu persoalan sebenarnya karena peristiwa itu terjadi di wilayah kerajaan yang cenderung tertutup, di pusat kota yang menjadi ikon terpentingnya. Ya. Kerajaan Arab Saudi. Peristiwa itu terjadi di kota Mekah. Kota suci paling dirindukan umat Islam.

Kritik Kepada Ulama dalam Sejarah Islam

Agak repot juga membincang topik ini. Utamanya ketika sudah berkaitan dengan politik. Agak beda jika perbincangannya dalam konteks akademik. Agak ringan memang. Seribu tahun lalu, topik ini pernah panas juga.

Sabtu, 07 September 2019

Jihad dalam Al-Quran Apakah Hanya Berarti Perang? Begini Kata Al Quran dan Para Pakar Tafsir


M. Khoirul Huda

Setiap individu atau kelompok memiliki keinginan untuk mewujudkan apa yang mereka cita-citakan. Dalam komunitas Muslim, ada banyak individu atau kelompok yang memiliki orientasi dan cita-cita yang berbeda-beda. Di antara individu atau kelompok Muslim ada yang merujuk kepada kitab suci dalam merumuskan cita-citanya. 

Kelompok Muslim yang ingin mengembangkan ilmu pengetahuan akan merujuk kepada kitab suci untuk menemukan ayat-ayat Tuhan yang memotivasi pengembangan pengetahuan. Kelompok spiritualis akan merujuk kitab suci menemukan dukungan kecenderungan mereka. Begitu juga kelompok politik akan mencari rujukan dalam kitab suci tentang apa yang harus diwujudkan dan cara mewujudkannya. Ketika kitab suci mengandung ayat-ayat yang menunjukkan penggunaan kekerasan seperti perang, maka dengan segera akan menarik perhatian individu dalam kelompok tersebut. Tanpa mempertimbangkan lebih jauh konteks (asbabun nuzul) ayat, pemilihan kaidah-kaidah penafsiran yang tepat, dan konteks sosial-politik yang berbeda, ayat-ayat perang dipilih dan digunakan menguatkan ideologi sosial-politik mereka. Perang adalah strategi sosial-politik menguasai dan mendominasi kelompok lain. 

Dalam komunitas Muslim, kelompok politik berorientasi kekerasan tumbuh subur sejak lama di era modern. Silih berganti kelompok politik kekerasan Muslim. Satu tumbang, tumbuh yang lain. Setiap ada kesempatan. Mereka tidak pernah benar-benar hilang ditelan zaman. Indonesia memiliki pengalaman kaya dalam masalah ini. Kesamaan  banyak kelompok Muslim politik yang tak segan menggunakan kekerasan berbasis agama, adalah keinginan mewujudkan otoritas Allah dan terkadang perang menjadi strategi utama. Karena itu, ayat-ayat tentang perang lebih banyak mendapat perhatian dibanding ayat-ayat tentang ilmu pengetahuan, alam semesta, ibadah, lebih-lebih ayat yang mengajurkan perdamaian yang bertebaran dalam banyak bagian kitab suci Muslim, Al-Quran. 

Di sisi lain, telah terjadi penyempitan istilah yang terdapat dalam Al-Quran. Di lingkungan kelompok ini, tidak ada kata yang lebih tragis disempitkan maknanya kecuali kata jihad. Jihad selalu dikonotasikan dengan perang dan aksi bunuh-membunuh. Padahal, Al-Quran menggunakan kata tersebut dalam pengertian yang lebih luas. Perang hanya menjadi salah satu pengertian jihad. Kata Al-Jihad disebut sebanyak 37 kali dalam Al-Quran. Hasan Izzuddin Al-Jamal dalam Mu’jam Wa Tafsir Lughawi Li Kalimat Al-Quran mengatakan bahwa dalam Al-Quran pada umumnya kata al-jihad berarti mengerahkan kemampuan menyebarkan ajaran Islam dan membelanya (aktsaru ma warada al-jihad fi al-qur’an warada muradan bih badzl al-wus’i fi nasyr al-da’wah al-islamiyah wa al-difa’ ‘anha). Ada pula yang membatasi pengertiannya pada upaya keras melawan tiga macam musuh manusia; musuh kasat mata, setan dan hawa nafsu. 

Kamis, 05 September 2019

Kritik Terhadap Konsep Tauhid Hakimiyyah


M. Khoirul Huda

Belakangan berkembang kelompok yang memperkenalkan konsep syirik dalam pemerintahan. Istilah mereka, syirkul qushur. Disebut syirik karena dianggap bertentangan dengan konsep tauhid. Dalam pandangan mereka, tauhid juga harus diimplementasikan dalam urusan pemerintahan. Tauhid menurut mereka berarti hanya mengakui Allah sebagai pencipta (rububiyah), memurnikan ibadah hanya kepada Allah (uluhiyah), dan hanya Allah yang berhak membuat aturan (hakimiyah).

Ketika hak membuat peraturan hanya milik Allah, tidak boleh ada makhluk yang membuat peraturan di luar peraturan-Nya. Membuat peraturan di luar peraturan Allah berarti menempatkan manusia pada posisi Allah. Hal ini sama dengan mengakui Tuhan selain Allah. Dan ini adalah bentuk memusyrikan. Larangan menyekutukan Allah dalam pembuatan peraturan, dalam pandangan mereka, ditegaskan dalam Al-Quran berikut:

وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا (26(
Dan Allah tidak menyekutukan dalam ‘hukum’-Nya pada seorang pun (Qs. Al-Kahf: 26)

Ayat ini mengatakan Allah tidak menyekutukan dalam ‘hukum’-Nya pada seorang pun. Dua kata kunci dalam potongan ini adalah syirik (menyekutukan) dan hukum. Menyekutukan Allah dalam ‘hukum’ diartikan dengan membuat peraturan selain peraturan Allah. Menurut mereka hal itu adalah bentuk kemusyrikan. Pelakunya berarti telah melakukan perbuatan musyrik. Pantas disebut musyrik dan kafir.

Rabu, 04 September 2019

Fitnah Besar Sebelum Fitnah Dajjal


 M. Khoirul Huda

Hadis-hadis tentang akhir zaman belakangan kembali populer. Para penyebarnya adalah para dai yang punya afiliasi politik tertentu. Atau kelompok tertentu yang bertujuan mendirikan negara yang mereka yakini sebagai negara Islam. Untuk mempengaruhi masyarakat, mereka mengutip hadis-hadis Nabi saw. tentang akhir zaman lalu mereka mencocok-cocokkan dengan kondisi sekarang. Di antara hadis akhir zaman yang sering dikutip di antaranya adalah hadis tentang Imam Al-Mahdi dan Dajjal.  

Dalam salah satu situs internet, untuk mempromosikan organisasi terornya, seorang penulis mengutip sebuah hadis riwayat Imam Ahmad bin Hanbal. Penulisnya mengutip terjemah hadis bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh, fitnah sebagian dari kalian lebih aku takutkan dari fitnahnya Dajjal. Dan tidak ada seseorang pun dapat selamat dari badai fitnah sebelum fitnah Dajjal melainkan pasti selamat pula darinya (fitnah Dajjal) setelahnya.  Dan tidak ada fitnah yang dibuat sejak adanya dunia ini baik kecil maupun besar kecuali untuk (menjemput) fitnah Dajjal” (HR. Ahmad).

Menurut penulis di situs tersebut, yang dimaksud fitnah sebelum fitnah Dajjal adalah sistem Dajjal yang diciptakan kaum Zionis seperti sekulerisme dan kapitalisme. Jadi, sekulerisme dan kapitalisme adalah fitnah sebelum fitnah Dajjal. Orang yang tidak selamat dari sekulerisme dan kapitalisme, tidak akan selamat dari fitnah Dajjal. Saat ini, menurutnya, satu-satunya ‘negara’ yang selamat dari sekulerisme dan kapitalisme adalah “Daulah”. “Daulah” adalah nama organisasi teroris yang sedang didukungnya. Benarkah maksud fitnah sebelum fitnah Dajjal dalam hadis adalah “sistem Dajjal” yang meliputi sekulerisme dan kapitalisme?

Mikraj dalam Pandangan Sahabat

  Setelah klaim kenabian, peristiwa kontroversial yang pernah dialami Nabi Muhammad saw. adalah isra dan mikraj. Isra-mikraj bukan saja me...